Kota kecil di Italia yang layak disambangi biasanya punya satu ciri sama: pusat kotanya cukup dijelajahi dengan berjalan kaki dalam sehari, tetapi meninggalkan kesan yang bertahan lebih lama. Daftar ini merangkum tujuh kota yang jarang masuk itinerary pertama, padahal aksesnya terjangkau lewat kereta atau bus dari kota besar. Semuanya cocok untuk satu sampai dua malam.
1. Bologna, kota yang masih hidup di balik lengkungannya
Bologna sering dilewati karena posisinya sebagai simpul transportasi. Padahal pusat kotanya menyimpan deretan portico, lorong beratap yang membentang puluhan kilometer dan menghubungkan hampir seluruh sudut lama kota. Saat hujan atau terik, kamu bisa berjalan dari satu ujung ke ujung lain tanpa basah.
Kota ini juga punya budaya makan yang kuat. Pasar-pasar di sekitar Piazza Maggiore menjual tortellini segar, mortadela, dan keju lokal. Kalau kamu datang dengan kereta dari kota lain, tata cara pindah peron dan membeli tiket bisa dipelajari dulu lewat panduan cara naik kereta di Italia untuk pemula supaya tidak kehilangan waktu di stasiun.
2. Lucca, kota tembok yang kini jadi jalur sepeda
Tembok renansemen Lucca masih utuh mengelilingi pusat kota, dan di atasnya warga lokal bersepeda, jogging, atau duduk di bawah pohon. Ini salah satu kota di Tuscany yang paling nyaman untuk berjalan tanpa peta karena tata kotanya rapi dan hampir tidak ada lalu lintas di dalam.
- Naik sepeda di atas tembok keliling, sewa tersedia dekat pintu masuk utama.
- Mampir ke Piazza dell’Anfiteatro, alun cekung yang mengikuti bentuk amfiteater Romawi.
- Menara Torre Guinigi punya taman kecil di puncaknya, tetapi tangganya sempit dan perlu antre.
3. Orvieto, berdiri di atas tebing batu vulkanik
Dari jalur kereta antara Roma dan Florence, Orvieto terlihat seperti kota yang menempel di dinding tebing. Pusat kota berada di atas, dicapai lewat kereta gantung dari stasiun bawah. Di dalamnya ada katedral dengan mosaik fasad yang warnanya masih tajam, serta jaringan lorong bawah tanah sisa penggalian sumur dan penyimpanan air.
Alokasikan setidaknya setengah hari. Tur bawah tanah biasanya berbayar dan jadwalnya terbatas, jadi sebaiknya dicek saat tiba di kantor informasi wisata.
4. Matera, rumah gua yang berubah jadi penginapan
Matera di Basilicata sempat dikenal sebagai kota yang terlupakan. Kawasan Sassi, permukiman gua yang dipahat ke lereng batu, kini dipenuhi penginapan, kafe, dan museum. Jalannya bertingkat dan berbatu, jadi sepatu bersol kuat lebih masuk akal daripada sandal.
Waktu terbaik untuk berkeliling adalah pagi sebelum rombongan tur datang, atau menjelang senja saat cahaya jatuh miring ke dinding batu. Matera bisa dikombinasikan dengan perjalanan dari Bari, yang punya bandara dan jalur kereta cukup sering.
5. Verona, pusat kota Romawi yang masih dipakai
Verona sering dikunjungi setengah hari untuk melihat rumah Juliet, lalu ditinggalkan. Padahal Arena di pusat kota masih digunakan untuk konser opera musim panas, dan itu salah satu cara paling langsung merasakan bangunan Romawi yang tetap berfungsi. Di luar itu, jalan-jalan di sekitar Ponte Pietra dan Piazza delle Erbe memberi gambaran kota yang tidak seramai Venesia, sekitar satu jam dengan kereta ke timur.
6. Lecce, kota batu berwarna krem di ujung selatan
Lecce di Puglia dibangun dengan batu kapur lokal yang mudah dipahat, sehingga fasad gereja dan istana di pusat kota penuh ukiran detail. Warna bangunannya seragam, krem terang, dan sangat berbeda dari kota-kota Italia utara. Suhu musim panas bisa tinggi, jadi jadwalkan jalan kaki pada pagi dan sore, lalu gunakan waktu siang untuk makan panjang seperti kebiasaan lokal.
Dari Lecce, kamu bisa menjangkau kota-kota pesisir Puglia dengan bus atau kereta lokal. Kalau masuk Italia lewat Bandara Bari atau Brindisi, pertimbangkan dulu perbandingan bandara Italia untuk masuk agar rute tidak memutar.
7. Aosta, kota pegunungan dengan sisa benteng Romawi
Aosta berada di lembah Alpine, dikelilingi puncak bersalju dan masih menyimpan gerbang kota Romawi, teater, serta lengkungan kemenangan yang berdiri di tengah pusat. Suasananya campuran: bahasa dan nama tempat terasa Prancis, tetapi arsitektur kotanya jelas Italia. Ini titik awal yang praktis untuk naik ke resor pegunungan atau menjelajah jalur anggur di lembah sekitar.
Ringkasan
Tujuh kota di atas memberi variasi lanskap dan sejarah yang cukup berbeda: Bologna dan Verona untuk kota berukuran sedang yang ramai, Lucca dan Orvieto untuk jalan kaki santai, Matera dan Lecce untuk Italia selatan, serta Aosta untuk kaki pegunungan. Pilih dua atau tiga yang berada di jalur yang sama daripada memaksakan semuanya dalam satu perjalanan. Jaringan kereta antarkota di Italia memudahkan perpindahan, asalkan kamu memesan tiket lebih awal untuk rute yang ramai.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apakah kota-kota kecil ini bisa dikunjungi tanpa menyewa mobil?
Sebagian besar bisa. Bologna, Lucca, Orvieto, Verona, dan Lecce punya stasiun kereta dekat pusat kota. Matera dijangkau dengan bus atau kereta dari Bari, lalu dilanjutkan berjalan kaki. Aosta juga terhubung jalur kereta. Sewa mobil baru masuk akal kalau kamu ingin singgah di desa-desa sekitar atau membawa banyak barang.
Berapa lama idealnya menginap di satu kota kecil?
Satu malam cukup untuk melihat pusat kota, tetapi dua malam memberi ruang untuk museum, tur bawah tanah, atau perjalanan singkat ke desa tetangga tanpa terburu-buru. Kota seperti Matera dan Orvieto lebih nyaman dinikmati dengan dua malam karena banyak hal yang perlu dipesan lebih dulu.
Kapan waktu terbaik berkunjung?
Musim semi dan awal musim gugur memberi suhu yang lebih nyaman untuk berjalan kaki. Juli dan Agustus cenderung ramai dan panas, terutama di kota selatan seperti Lecce dan Matera. Kalau datang di musim dingin, cek jam buka museum dan jadwal kereta karena beberapa layanan dikurangi.
